| Perspektif dan Prinsip-Prinsip Therapeutik Komunikasi |
|
|
|
| Written by Yh. Barjaniartha, SK, M.Kes | |
| Thursday, 28 February 2008 | |
|
Stikes Perdhaki Charitas Palembang
Perspektif dan Prinsip-Prinsip Therapeutik Komunikasi Komunikasi merupakan sarana interaksi dalam kehidupan manusia. Manusia dalam kediriannya bersifat bio – psycho – sosial – spiritual . Konfigurasi aspek-aspek tesebut menjadi kombinasi yang integral yang utuh dalam diri seorang manusia. Intervensi keperawatan yang terjadi adalah hubungan antara seorang perawat kesehatan dengan pasien yang didasari pada pemenuhan kebutuhan dari kedua belah pihak sebagai manusia yang utuh. Bio-psycho-sosial-spiritual merupakan fundamen yang hakiki dalam melakukan intervensi keperawatan secara komprehensif dan holistik yang pada hakekatnya dilakukan dengan menggunakan komunikasi yang mampu mendukung proses percepatan kesembuhan pasien. Pendahuluan Komunikasi berasal dari bahasa Latin communicare, yang artinya memberi kabar atau mengabarkan ( to impart ), mengambil bagian ( to participate ) dan memberi dan membagikan informasi sesuatu kepada yang lain (to convey an share information about ) Komunikasi adalah suatu aksi yang sifatnya timbal balik saling memberi kabar, informasi,, tukar pikiran ( dialog, diskusi ), yang menampakan sikap , tindakan dan emosi pada manusia yang terlibat di dalamnya. Komunikasi merupakan sesuatu hal yang tidak pernah dapat dilepaskan dari setiap aspek kehidupan manusia ( tindakan, perilaku manusia ). Perawat kesehatan mempunyai fungsi / peran sebagai pelaksana perawatan, penge lola perawatan, pendidik dan pengembang ilmu keperawatan. Dari keempat unsur fungsi yang melekat pada diri seorang perawat kesehatan dan yang secara langsung berhubungan dengan intervensi keperawatan adalah fungsi pelaksana perawatan dan pengelola perawatan Seroang perawat kesehatan dalam melakukan intervensi keperawat-an harus dilakukan secara komprehensif dan sekaligus holistik. Pada saat itulah komunika si therapeutik seyogyakanya dipergunakan pada setiap intervensi kepada pasien, interper sonal skill seorang perawat kesehatan dalam berkomunikasi menjadi suatu tuntutan yang harus dipunyai . Hal yang harus selalu diingat oleh setiap orang perawat kesehatan adalah pasien datang ke ruma sakit mau berobat / dirawat tujuan utamanya sembuh dari penyakit yang diderita dalam waktu yang cepat. Hal yang juga harus selalu diingat bahwa seorang pernah mengucapkan sumpah / janji bahwa dalam setiap tindakan keperawatan yang dilakukan akan dilakukan secara profesional. Profesionalitas akan dapat terjadi bila seorang perawat selalu menyadari akan profesinya dan profesi akan menjadi profesionalitas bila seorang perawat selalu mampu memadukan kemampuan kognitif, afektif, psychomotor dan setiap tindakannya didasari pada perspektif dan prinsip-prinsip komunikasi therapeutik. Berdasarkan penelitian oleh Rosenstein, 2002 ; Rosenstein dan O’Daniel 2005 yang responden adalah pesiunan administrator rumah sakit yang meliputi, dokter, perawat dan tenaga staf administrasi di berbagai negara maju, antara lain di Amerika Serikat menemukan bahwa terjadi persepsi negatif terhadap ketidak puasan dan hasil perawatan disebabkan oleh komunikasi yang tidak baik yang dilakukan oleh para dokter dan perawa tan kesehatan serta staf devisi penunjang. Komunikasi Dalam Keperawatan Komunikasi adalah suatu proses yang kompleks karena dalamnya terjadi konfigu rasi berbagai macam aspek yakni aspek personal ( kognitif, afektif dan psychomotor ), sosial ( budaya, lingkungan, norma , etika ), pemenuhan kebutuhan dan agama. Konfigurasi dari pelbagai asapek akan terwujud dalam perilaku . Perilaku merupakan per wujudan nyata dari interaksi dengan sesamanya, perilaku perupakan aktualisasi diri merupakan pengkomunikasian diri kepada orang lain. Komunikasi seorang perawat dengan pasien pada umumnya menggunakan komu-nikai yang yang berjenjang yakni komunikasi intrapersonal, interpersonal dan komunal / kelompok. Poter dan Ferry ( 1993 ) ,” komunikasi dalam prosesnya terjadi tiga tahapan yakni komunikasi intrapersonal, interpersonal dan publik.” Pada tindakan atau intervensi keperawatan umumnya berbentuk komunikasi secara interpersonal langsung dengan jenis verbal maupun non verbal. Kemampuan inter aktif, perawat kesehatan dengan pasien mempunyai karakter spesial . Dalam tindakan atau perilaku kedua belah pihak menunjukkan aspek sosial dan profesional. ( Hupcey dan More, 1997 ). Setiap komunikasi mempunyai tujuan, untuk mencapai tujuan diperlukan suatu metode , sehingga pencapaian tujuan dapat optimal. Komunikasi interaktif perawat kese-hatan dengan pasien tujuannya adalah kesembuhan pasien dari sakit yang dideritanya. Bila harapan pasien untuk sembuh lambat dan bahkan tidak terjadi seorang perawat secara moral sering kali merasa ikut bersalah. Perasaan yang sering kali muncul dalam dii ri seorang perawat yang baik dan profesional, menunjukkan bahwa komunikasi dalam ke perawatan mempunyai kekukhususan yakni menyangkut kelangsungan kehidupan seorang manusia. Addalati (1983), Bucaille ( 1979 ) dan Amsyari, ( 1995 ) menegaskan bahwa seo-rang perawat yang beragama, tidak dapat bersikap masa bodoh, tidak peduli terhadap pa sien, seseorang ( perawat ) yang tidak care dengan orang lain ( pasaien ) adalah berdosa. Seorang perawat yang tidak menjalankan profesinya secara profesional akan merugikan orang lain / pasien, unit kerjanya dan juga dirinya sendiri. Komunikasi dalam keperawatan disebut dengan komunikasi therapeutik, artinya komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat pada saat melakukan intervensi kepera watan harus mampu memberikan kasiat therapi dalam proses penyembuhan pasien. Oleh karenanya seorang perawat kesehatan harus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan aplikatif komunikasi therapeutic agar kebutuhan, kepuasan pasien dapat dipenuhi. Komunikasi Interpesonal Dalam Perawatan Dalam publikasi dinamis Peplau tentang , Interpersonal Relation in Nursing ( 1992), telah dipresentasikan kerangka konseptual suatu proses therapeutik antara pera wat dengan pasien. Dalam prestasinya Peplau mengatakan bahwa komunikasi perawat dengan pasien dipengaruhi faktor-faktor yang kompleks meliputi faktor lingkungan dan interaksi yang pernah mereka alami mulai dari orang tua, yang dilandasi pada sikap-sikap, kepercayaan, dan pengalaman hidupnya pada budaya yang ikut menanamkan value kehidupan. Empat phase interrelasi perawat pasien yang berkatian dengan tanggungjawab dan tugas perawat kesehatan terhadap pasien adalah : 1. Orientasi ( orientation ), pada phase ini seorang perawat harus mampu menangkap bahwa pasien ingin mencari kesembuhan penyakitnya dan dia mempercayakan dirinya dirawat oleh perawat. Untuk seorang perawat harus mampu melakukan anamnese dengan baik de ngan mengaplilkasikan prisip-prinsip komunikasi therapeutik, phase orientasi sering juga disebut phase pengenalan, pendahuluan 2. Indetifikasi ( identification ), interaksi perawat – pasien hendaknya berbasis pada kepercayaan, penerimaan, pengertian, relasi yang saling membantu. Interaksi perawat – pasien berproses seperti diharapkan bila dilakukan dengan mengetrapkan prinsip-prinsip komunikasi efektif. 3. Eksploitasi ( exploitation ), interrrelasi perawat – pasien, akan menumbuhkan pengertian pasien terhadap proses system asuhan , sehingga pasien mempu-nyai keterlibatan aktif yang muncul dari dirinya karena ingin cepat sembuh da ri sakitnya. Aspek lain pasien dapat ditimbulkan pengertian, dan kesadaran self – care, sehingga peran perawat dan pasien dalam proses keperawatan un-tuk mencapai penyembuhan terjadi dengan baik ( kolaborasi ). . 4. Resolusi ( resolution ), tahap yang keempat merupakan tahap yang penting dalam intervensi keperawatan. Harapan, kebutuhan pasien dapat diketahui melalui hubungan kesetaraan perawat – pasien dengan menggunakan komuni-kasi efektif. Harapan, kebutuhan pasien merupakan data yang menjadi arah tindakan apa yang perlu dilakukan terhadap pasiennya, resolusi problem asuhan keperawatan akan jelas karena kebutuhan dan harapan pasien sudah di ketahui. Phase yang keempat ini sering kali disebut dengan phase terminasi. Gaya Komunikasi Bila kita memikirkan berkomunikasi, kita sering memimpikan dirinya sendiri sedang berbicara dengan orang lain. Kenyataannya bahwa komunikasi adalah berbicara, mendengar, berpikir, interaksi, merencana, merespon secara simultan. Berarti komunikasi adalah alat untuk mengerti perspektif personal orang lain dan menginterpretasi dan me-respon yang didasarlkan pengalaman personal. Interaksi perawat – pasien menyaratkan semua perawat mempunyai pengertian, perhatian, minat, dan kompetensi menganalisa perilaku dan emosional terhadap konteks terhadap interaksi yang terjadi antara perawat – pasien. Gaya komunikasi perawat – pasien dipengaruhi oleh kemahiran / ketrampilan perawat menegakan hubungan, keperca yaan dan emphaty dengan menggunakan gaya mendengarkan aktif sebagai sarana yang memfasilitasi hubungan perawat - pasien dalam asuhan keperawatan. Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Komunikasi Efektif : 1. Hubunngan 2. Kepercayaan 3. Emphaty 4. Cara / media penyampaian pesan 5. Kekuatiran dan stres 6. Bahasa ( verbal komunikasi ) 7. Bahasa tubuh ( noverbal komunikasi ) 8. Jarak.
Teknik Komunikasi Therapeutik Komunikasi therapeutik dasar dari hubungan interaktif, yang dilandasi oleh frame Komunikasi therapeutik hendaknya dapat menjadi salah satu sarana menyembuh-kan atau mempercepat kesembuhan pasien, ruang linngkup yang terlibat dalamnya bukan hanya interaksi perawat – pasien saja tetapi meliputi staff keperawatan, keluarga dan stakeholder. Teknik komunikasi therapeutik adalah 1. mendengar secara aktif 2. ketegasan 3. kejelasan 4. mengatasi konflik 5. terjadi kontak langsung 6. terfokus 7. saling memberikan infomasi 8. adanya humor 9. Negosiasi 10. menanyakan sesuatu 11. melakukan refleksi 12. berani membuka diri secara tuilus. 13. keheningan 14. Ucapan dan yang ada dalam hati sama. 15. menyimpulkan
Kesimpulan Komunikasi therapeutik merupakan hal yang sentral dalam asuhan keperawatan. Komunikasi therapeutik menjadi suatu keharusan untuk difahami dan diimplemen tasikan oleh seorang perawat dalam melakukan tindakan kepada pasien. Profesionalitas seorang perawat kesehatan akan dapat diwujudkan dengan kemampuan seorang perawat kesehatan mengkomunikan kapabelitas kognitif, afektif dan psychomotor menjadi suatu konfigurasi integral dalam memenuhi espektasi klienya, dengan memaknai komunikasi dirinya dengan nilai-nilai therapetik. Secara holistik kepada klien / pasien. Referensi : Ceccio, J., & Ceccio, C. M ( 1982). Effective Communication in Nursing : Theory and Practice. New York; John Wiley & Sons Cooper, L.A., Roter, D.L, Johnson, R.L., Ford, D. E., Steinwachs, D.M., Powe, N. R, (2003 ). Patient-centered communication, rating of care, and concordance of pa- tient and phycians race. Annals of Internal Medicine, 139, 907 0 915. Potter, P.A., Hunter, M & Kruzsweski, A. ( 1983 )., Introuduction to person-centered nur sing., Philadelphia : J.B Lippincott Company Timmins, F., & McCahe, C . ( 2005a). How assertive are nurses in ther workplace ? A prelimarey pilot study. Journal of Nursing Managament, 13, 61-67. National Institute on Deafines and Others Communication Disorders ( NIDCD) – What Is Voice ? What Is Speech ? What Is Language ? : hhttp://www.nidch.nih.gov/health/voice/whatis_vsl.asp |
|
| Last Updated ( Friday, 09 October 2009 ) |
| < Prev | Next > |
|---|




Oleh : Yh. Barjaniartha, SK, M.Kes






